Seminar BSBI Kerja Sama dengan AFEBI “Game Changer dan Resiliensi Ekonomi: Kebijakan Fiskal dan Moneter di Indonesia pada Masa Pandemi”

Pemulihan ekonomi Indonesia diprediksi akan lebih cepat. Hal ini karena, kebijakan-kebijakan yang diambil dalam menghadapi pandemi Covid-19, dinilai tepat.

Menurut Ketua Badan Supervisi Bank Indonesia (BSBI) Muhammad Edhie Purnawan, pandemi memang membuat produktivitas dan pertumbuhan ekonomi menurun. Karena, secara bersamaan pandemi Covid ini membuat perubahan di berbagai sektor kehidupan, namun hal itu juga diantisipasi oleh negara.

“Kebijakan sudah diambil supaya ekonomi lebih tangguh,” ujar Muhammad Edhie Purnawan dalam Seminar Nasional secara virtual “Game Changer dan Resiliensi Ekonomi: Kebijakan Fiskal dan Moneter di Indonesia pada Masa Pandemi” yang diselenggarakan Asosiasi Fakultas Ekonomi & Bisnis Indonesia (AFEBI) dan Badan Supervisi Bank Indonesia (BSBI), Senin (3/5).

Seperti diketahui, Indonesia menggunakan tiga game changer guna menekan pemulihan ekonomi nasional tahun ini. Pertama, lewat intervensi kesehatan dengan program vaksinasi nasional. Lalu anggaran APBN akan tetap fleksibel sehingga bisa dijadikan alat pemulihan ekonomi. Fleksibelitas tersebut dua di antaranya mencakup kesinambungan bisnis dan program perlindungan sosial.

Terakhir, ujarnya, reformasi struktural yang didorong melalui UU Ciptaker. Termasuk di dalamnya soal penyediaan lapangan kerja, pemberdayaan UMKM, dan reformasi regulasi.

Edhie menilai, kebijakan-kebijakan itu pula yang menjaga proyeksi negara untuk menyongsong masa emas akan ekonominya pada 2045.

Terkait jumlah vaksinasi pun, pungkasnya, kini Indonesia berada di urutan ke-9 setelah Prancis. Game changer tersebut membuat pertumbuhan ekonomi ke depan bakal positif, meskipun pada 2020 sempat minus 2,1 persen.

Belum lagi pada 2021, negara menganggarkan Rp700 triliun untuk program pemulihan ekonomi nasional. “Mudah-mudahan triwulan I (2021) mendekati positif,” katanya.

Lewat perannya di Badan Supervisi Bank Indonesia, Ia pun berkomitmen meningkatkan peran dan kredibilitas BI. Ia optimis, jika BI lebih transparans, maka kebijakannya ke depan akan lebih membawa pengaruh positif.

Senada dengannya, Deputi Senior Gubernur BI, Destry Damayanti mengatakan, pemulihan ekonomi global di masa pandemi ini bakal lebih cepat dari ekspektasi. Hal ini terindikasi dari volume perdagangan dunia yang terus menunjukkan peningkatan.

Dia mengatakan, krisis COVID-19 adalah krisis yang belum pernah dialami sebelumnya. Pasalnya, tidak hanya mendorong penurunan ekonomi, namun juga menciptakan krisis kesehatan dan berhentinya mobilitas secara umum.

“Hal ini mendorong adanya respons kebijakan yang extraordinary secara global, termasuk kebijakan dari bank sentral,” katanya.

Terkait ini, BI menelurkan sejumlah kebijakan untuk mendorong momentum pemulihan ekonomi, antara lain lewat kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran. BI juga mengembangkan UMKM, ekonomi dan keuangan syariah, pendalaman pasar keuangan. Kesemuanya dikoordinasikan dengan pemerintah dan instansi lainnya.

Dia mengungkapkan, BI memprpyeksikan pertumbuhan ekonomi di kisaran 4,1-5,1% di 2021. Inflasi diperkirakan 3,0 +/- 1.

“Pemulihan ekonomi didukung perbaikan ekonomi global, mobilitas dengan vaksinasi, stimulus fiskal dan moneter, serta dukungan kredit dan pembiayaan dari perbankan. Stabilitas makrokonomi dan sistem keuangan tetap terjalan,” katanya.